Pengantar Psikolinguistik:
Pemerolehan Bahasa
Mengkaji korelasi organik antara bahasa dan proses kognitif mental manusia dalam penyandian, pemahaman sandi, hingga mekanisme pemerolehan bahasa anak dan gangguan tutur.
1. Definisi Kebahasaan Menurut Para Ahli
Psikolinguistik merupakan bidang interdisipliner yang mempelajari hubungan antara bahasa dan proses kognitif yang mendasarinya, termasuk bagaimana otak memproses dan menghasilkan ujaran serta bagaimana bahasa diperoleh (pemerolehan bahasa).
Enam batasan konseptual sosiolinguistik-psikologis dari para pakar global dijabarkan secara utuh sebagai berikut:
- Hartley (1982:16): “Psycholinguistics investigates the interrelation of language and mind in processing and producing utterances and in language acquisition.” Cabang ini membahas hubungan bahasa dengan otak dalam memproses, menghasilkan ujaran, dan pemerolehan bahasa.
- Osgood & Sebeok (dalam Stern, 1983:296): “Psycholinguistics deals directly with the processes of encoding and decoding as they relate states of message to states of communicators.” Ilmu ini berhubungan langsung dengan proses penyandian (encoding) dan pemahaman sandi (decoding) pesan oleh para pelibat komunikasi.
- Langacker (1973:6): “Psycholinguistics is the study of language acquisition and linguistic behavior, as well as the psychological mechanisms responsible for them.” Telaah pemerolehan bahasa (perkembangan kemampuan dari waktu ke waktu) dan perilaku linguistik (tindakan berbicara, mendengar, membaca, menulis dalam interaksi sosial sehari-hari).
- Diebold (dalam Slama, 1973:39): “Psycholinguistics is concerned in the broadest sense with relations between messages and the characteristics of the human individuals who select and interpret them.” Membicarakan hubungan antara pesan dan watak kemandirian manusia yang menyeleksi serta menafsirkan pesan, sebagai cerminan kemandirian berpikir.
- Paul Fraisse (dalam Slama, 1973:39): “Psycholinguistics is the study of relations between our needs for expression and communication and the means offered to us by a language learned in one's childhood and later.” Telaah hubungan kebutuhan manusia untuk ekspresi diri (pikiran, perasaan, identitas) dan komunikasi (berbagi informasi di lingkungan sosial).
- Palmatier (1972:140): “Psycholinguistics is the study of children's language development; an introduction of linguistic theory into psychological problems.” Telaah perkembangan bahasa anak dan pengenalan teori linguistik ke dalam masalah psikologis untuk memahami proses mental dan biologis anak sejak lahir.
2. Ruang Lingkup Kajian Psikolinguistik
Objek psikolinguistik adalah bahasa, gejala jiwa, dan hubungan di antara keduanya. Bahasa dilihat dari aspek psikologis, yakni proses bahasa yang terjadi pada otak (mind), baik pada otak pembicara maupun otak pendengar. Berikut 7 aspek penting dalam lingkup psikolinguistik:
- Kompetensi: Proses bahasa dalam komunikasi dan pikiran yang merupakan penguasaan tata bahasa yang berlangsung secara tidak disadari dan bersifat abstrak. Kompetensi mencakup tiga komponen tata bahasa: sintaksis, semantik, dan fonologi (Chaer, 2015:168).
- Akuisisi (Pemerolehan Bahasa): Proses di mana seseorang, terutama anak-anak, belajar dan mengembangkan kemampuan memahami dan menggunakan bahasa, baik lisan maupun tulisan (tata bahasa, kosakata, aturan sosial).
- Performansi: Pelaksanaan kemampuan bahasa secara nyata (aktual) berupa ujaran yang dihasilkan seperti berbicara, menyimak, membaca, dan menulis. Performansi dipengaruhi oleh: (a) Kerja Memori (kapasitas otak mengolah kalimat panjang); (2) Gangguan emosional/lingkungan (kecemasan, kelelahan); (3) Konteks sosial (situasi resmi vs akrab).
- Asosiasi Verbal dan Persoalan Makna: Proses mental di mana kata/konsep memicu konsep lain secara otomatis berdasarkan hubungan semantik (misal kata "kucing" memicu memori "anjing" atau "bulu").
- Proses Bahasa pada Orang Abnormal: Cara individu dengan gangguan atau kondisi neuropsikologis memproses, memahami, dan menggunakan bahasa akibat kondisi yang memengaruhi otak, perkembangan kognitif, atau fungsi motorik wicara.
- Persepsi Ujaran dan Kognisi: Terbagi menjadi dua komponen utama, yakni Persepsi Ujaran (proses mengenali dan membedakan rangkaian fonem lisan penutur lain) dan Kognisi (proses mental otak dalam mengingat dan mengambil keputusan berdasarkan input bahasa).
- Pembelajaran Bahasa: Penegasan bahwa kegiatan berbahasa tidak hanya berlangsung secara mekanistik (alat ucap), melainkan berlangsung secara mentalistik (otak), sehingga studi linguistik harus dilengkapi psikologi.
3. Teori & Aliran Pemerolehan Bahasa Pertama
Pemerolehan bahasa pertama berawal dari suara tangis bayi sebagai respon terhadap stimuli lingkungannya. David Ingram (1989) membagi teori pemerolehan bahasa menjadi dua aliran utama:
- Teori Aliran Behaviorisme: Menyatakan perkembangan bahasa anak melalui penambahan sedikit demi sedikit secara linear (garis lurus) hingga lengkap seperti bahasa orang dewasa.
- Teori Aliran Rasionalisme: Menyatakan perkembangan bahasa anak mengikuti pola tertentu yang memiliki tata bahasa sendiri (berbeda dari orang dewasa), yang berangsur-angsur diperbaiki menuju tata bahasa yang benar.
Tiga Pandangan Pendekatan Teoritis (Perdebatan Nature vs Nurture):
| Pendekatan | Tokoh Utama | Deskripsi dan Karakteristik Teoretis Pemikiran |
|---|---|---|
| Pandangan Nativistik (Mentalistik) | Noam Chomsky (1965, 1975) | Bahasa adalah pemberian biologis (hipotesis nurani). Anak dibekali secara alamiah dengan LAD (Language Acquisition Device), bagian fisiologis otak yang dikhususkan memproses bahasa dan terpisah dari kemampuan kognitif lain. Lingkungan bukan faktor penting. |
| Pandangan Behavioristik (Empirik/Mekanik) | B.F. Skinner (1957) | Proses penguasaan bahasa dikendalikan sepenuhnya dari luar (stimulus lingkungan). Anak dianggap sebagai penerima pasif ibarat lempung yang dibentuk. Kematangan anak tidak menentukan; perkembangan ditentukan oleh lamanya latihan dari lingkungan. |
| Pandangan Kognitif | Jean Piaget | Bahasa bukan ciri alamiah terpisah, melainkan hasil pematangan kognitif yang distrukturkan oleh nalar. Urutan perkembangan kognitif menentukan perkembangan bahasa. Struktur timbul akibat interaksi terus-menerus antara fungsi kognisi anak dan lingkungan. |
Tahap Perkembangan Bahasa Jean Piaget:
4. Batasan Pemerolehan vs Pembelajaran
Para psikolinguis membedakan secara tegas antara istilah Pemerolehan Bahasa (Language Acquisition) dengan Pembelajaran Bahasa (Language Learning) (Lyons, 1981:252; Simanjuntak, 1987:157):
| Kriteria Pembeda | Pemerolehan Bahasa (Bahasa Pertama / Ibu) | Pembelajaran Bahasa (Bahasa Kedua / Asing) |
|---|---|---|
| Waktu Terjadi | Terjadi pada masa kanak-kanak secara alami. | Terjadi kemudian jika performansi pertama sudah tetap. |
| Motivasi | Bermotivasi internal, ada tingkah laku & komunikasi verbal. | Bermotivasi eksternal, ada faktor kebutuhan & kemanfaatan. |
| Karakteristik Data | Data bahasa tidak terprogram langsung dari orang tua. | Berlangsung dengan program yang terencana matang. |
| Instruktur Formal | Tidak ada guru atau instruktur formal di lingkungan anak. | Ada guru atau instruktur formal yang mengarahkan kelas. |
Kiparsky (1977) menjelaskan pemerolehan bahasa sebagai proses anak menyesuaikan serangkaian hipotesis yang makin rumit dengan ucapan orang tuanya hingga memilih ukuran tata bahasa terbaik dan sederhana. Proses ini melibatkan Kaidah Bahasa pembagian komponen tata bahasa yang diperoleh bersamaan: Pemerolehan Semantik, Pemerolehan Sintaksis, dan Pemerolehan Fonologi.
Hubungan Usia Berdasarkan Tabel Performansi Linguistik (Atchison, 1976; Steinberg, 1982):
| Usia (Tahun) | Tahap Perkembangan / Performansi Linguistik Anak |
|---|---|
| 0,3 | Siswa/Anak mulai meraban. |
| 0,9 | Pola intonasi telah kedengaran secara jelas. |
| 1,0 | Kalimat satu kata (Tahap Holofrasis / Penamaan). |
| 1,3 | Lapar kata (lexical overgeneralization). |
| 1,8 | Ujaran dan kata terucapkan secara nyata. |
| 2,0 | Infleksi; mulai memproduksi kalimat tiga kata (Tahap Telegrafis). |
| 2,3 | Anak mulai menggunakan kata ganti secara adaptif. |
| 2,6 | Kalimat tanya, kalimat negatif, kalimat empat kata, pelafalan sempurna. |
| 3,6 | Pelafalan bunyi konsonan telah sempurna. |
| 4,0 | Kalimat sederhana yang tepat, tetapi penggunaannya masih terbatas. |
| 5,0 | Konstruksi morfologis dan sintaktis telah sempurna (Menjelang Dewasa). |
| 10,0 | Anak mencapai kematangan berbicara penuh. |
5. Patologi: Gangguan & Keterlambatan Berbicara
Penyebab keterlambatan bicara (speech delay) dan berbahasa pada anak secara umum sangat beragam (Sutardi, 1997:67). Faktor penyebabnya meliputi:
- Retardasi Mental (Intellectual Disability): Kondisi fungsi intelektual di bawah rata-rata (IQ < 70) dan kemampuan adaptasi lebih rendah, menyebabkan hambatan berpikir, belajar, dan memecahkan masalah sejak masa kanak-kanak.
- Gangguan Pendengaran: Ketidakmampuan mempersepsi input auditori bahasa lisan.
- Kelainan Organ Bicara: Malformasi struktural pada sistem artikulasi motorik wicara.
- Mutisme Selektif: Gangguan psikologis berupa ketidakmauan berbicara pada keadaan/situasi tertentu.
- Deprivasi Lingkungan: Kurangnya pemberian stimuli atau interaksi bahasa dari lingkungan sekitar anak.
- Kekurangan Gizi: Mengakibatkan kelainan atau hambatan perkembangan fungsi saraf.
- Autisme: Deviasi komunikasi baik dalam berbahasa maupun bertingkah laku sosial.
4 Penggolongan Gangguan Bicara Menurut Carrol (1986:30):
Carrol membagi patologi kesulitan berbicara konkret ke dalam empat rumpun utama:
Implikatur Faktor Medis vs Faktor Lingkungan
Faktor medis berimplikasi pada gangguan berbicara, berbahasa, dan berpikir. Contohnya adalah cedera otak yang merusak sistem saraf, gangguan psikogenik, serta kerusakan organ wicara yang memutus jaringan wilayah auditori dan produksi tutur. Gangguan medis ini ada yang bersifat permanen, namun ada pula yang bersifat temporer (kekurangmampuan berbahasa/belum mampu), seperti pada penderita gagap yang dipengaruhi perasaan afektif sehingga ucapan dan pikiran tidak tersambung dengan baik (Gleason dan Ratner, 1998:75).
Uji Kompetensi Mandiri: Bab 4
Uji pemahaman Psikolinguistik dan Pemerolehan Bahasa Anda. Total bobot nilai: 100 (10 poin per soal).